Samudera & Kirana (part 1)
Mega menjelma kemerahan, yang berarti Fajar telah datang menyambut pagi yang masih sepi. Bergegas cepat ia menarik handuk, lalu membersihkan badanya dikamar mandi. Subuh tadi padahal ia sudah wudhu dan salat.
Wajahnya tidak sesumringah biasa, ada yang berbeda dari pancaran matanya. Salim teman satu kosnya pun merasakan hal yang tidak biasa. Biasanya ia pergi dahulu membeli nasi lengko untuk sarapan, tapi kali ini berbeda ia lebih memilih menyeruput kopi dan duduk diteras dan memegang koran, hanya memegang saja karena matanya berisi kekosongan yang dilihat.
Salim yang sudah mengenal ia 6 Bulan dikosan ingin sekali bertanya, dan membantu, tapi dia tau betul watak sahabat seperjuangannya itu. Wataknya keras, teguh, kadang tak masuk akal pikirannya.
"Ayo mangkat rek, maca koran apa?" Salim mencoba menyapa sahabatnya yang sudah seminggu ini bertingah aneh.
"Berangkat aja dulu sana, saya mau menikmati pagi dulu, " ia enggan menggubris Salim.
"Kamu tuh mikiri apa si? " Salim mencoba mendikte.
"Engga ada apa-apa Mang Salim.. " kali ini ia makin geram, ditinggalkan Salim diteras sendirian begitu pula korannya yang dibanting jauh ketengah meja, ia hanya membawa kopinya dan beralih ke meja tamu, lagi-lagi ia hanya menyeruput kopinya sedikit, lalu pandangan langsung kosong, sangat kosong.
Salim yang tak berharap mendapat respon yang seperti itu juga ikut geram, ia lalu membuntui sahabatnya keruang tamu, dan kembali mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Dra, pasti ikih Kirana." tanya Salim dengan perasaan cemas.
Benar saja raut muka sahabat nya itu menjadi seperti orang marah, namun lagi-lagi tersirat kesedihan didalamnya.
Dia tetap tidak menjawab pertanyaan Salim.
"Coba cerita bae, mungkin bae bisa bantu Dra, aja disimpen bae dewek, lara dewek ku beli enak Dra, saakiit" tangan Salim mengarah ke dadanya mencoba gaya seperti cita-citata, namun ternyata hal tersebut tidak membantu sahabatnya juga.
Akhirnya ditengah-tengah keheningan itu Samudera angkat bicara juga.
"Lim.. " katanya dengan suara yang surau.
Salim langsung mengangguk dan menyimak, dia benar-benar penasaran.
"Apa salah jika saya mencintai wanita yang lebih pintar dari saya Lim? " katanya dengan nada penuh kepasrahan.
Salim yang tak menyangka akan ditanya seperti itu hanya bisa menggeleng, mengisyaratkan bahwa pernyataan itu tidak benar.
"Apa salah jika saya merantau untuk memakmurkan diri saya dulu, baru saya berani mengungkapkan isi hati saya Lim" lanjutnya lagi..
Salim masih menggeleng.
"Kamu benar Salim, ini semua Kirana. Mungkin niat saya salah, seharusnya saya pergi itu bukan karena ambisi saya untuk menikahi Kirana.. " suaranya makin sesak.
"Maksudnya apa Dra, beli ngarti. "
"Udahlah Salim percuma saya ceritakan juga, kamu gak akan pernah paham, kamu sendiri saja masih bujang.. " Samudera bangkit dari kursinya, lalu megangambil tas selempang yang sering ia bawa kepabrik.
"Dra aja ninggali si.. " Salim berteriak kepada sahabatnya yang sudah memanaskan motor kreok mereka.
****
Samudera
Pagi buta itu.
Langkahmu sudah menderu-deru.
Memulai hari yang baru
Tak lupa subuh kau laksanakan.
Tak lupa berdoa demi dia tersayang.
Tak lupa sarapan untuk mengganjal lapar.
Jalanan yang macet tak menyurutkanmu.
Ibu kota bukanlah desa itu.
Tak sampai siang
Keringat mu telah membasahi tubuh..
Namun kau tetap tangguh.
Aku sangat tersentuh kawan.
Saat kau berdoa lama.
Aku tanya karena penasaran
Setelah kau habis sembahyang.
Katamu ini doa untuk Kirana tersayang..
Aku tergelitik ..
Kau memang benar-benar udik.
Samudera..
Siapa itu Kirana.
Mengapa dia membuatmu kabur kekota?
Comments
Post a Comment